Sabtu, 23 Juni 2012

Ke Depan dengan Kehati-hatian


Ke Depan dengan Kehati-hatian
Toeti Prahas Adhitama ;  Anggota Dewan Redaksi Media Group
Sumber :  MEDIA INDONESIA, 22 Juni 2012


TELAH satu pekan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan rombongan melanglang buana untuk kunjungan kerja ke tiga negara Amerika Latin: Meksiko, Brasil, dan Ekuador. Situasi sosial-politik dalam negeri memang sedang mengesalkan, tetapi kunjungan kerja kali ini perlu dan penting, fokus pada perekonomian dunia dan lingkungan hidup yang mengancam masyarakat manusia.

Presiden hadir di KTT G-20, kelompok 19 negara ditambah perwakilan Uni Eropa, yang dianggap mewakili kekuatan terbesar perekonomian dunia yang dijalankan 65% penduduk dunia, dengan 80% PDB dunia, dan menggerakkan 80% perdagangan dunia. Di Rio de Janeiro, Brasil, Presiden menghadiri KTT Rio+20 tentang lingkungan hidup. Kunjungan ke Ekuador membalas kunjungan Presiden Ekuador ke Indonesia pada 2007.

Pertemuan-pertemuan itu layak mendapat prioritas karena ekonomi global ibarat urat nadi penghidupan masyarakat dunia, yang majumundurnya berpengaruh terhadap ekonomi nasional. Perembukan untuk mengatasi kerapuhan situasi, yang dipicu krisis ekonomi sejumlah negara Eropa dan mengganggu hubungan ekonomi/perdagangan/keuangan antarnegara, kabarnya berlangsung alot.

Mengenai lingkungan hidup, kita layak cemas dengan makin rusaknya ingkungan akibat keserakahan manusia untuk memanfaatkan sebanyakbanyaknya kekayaan bumi. Tarik ulur kepentingan antara kelompok berteknologi tinggi, yang lebih banyak merusak, dan negara-negara berkembang telah berlangsung puluhan tahun, tetapi belum dicapai titik temu yang bisa diterima secara legowo oleh kedua pihak.

Ekonomi Indonesia dalam Perjuangan

Sejak terlepas dari penjajahan 67 tahun lalu, banyak siasat telah kita jalankan demi kesejahteraan bersama. Masa Orde Lama menyaksikan usaha-usaha kita melepaskan diri dari sistem perekonomian kolonial menjadi perekonomian negara merdeka. Seiring de ngan perjuangan fisik, bidang ekonomi mensyaratkan kesiapan sikap yang semula serbadiatur penjajah menjadi sikap mandiri, antara lain dengan menyiapkan infrastruktur.

Dapat dibayangkan sulitnya mengubah masyarakat yang sebagian besar bermental priyayi dan petani menjadi masyarakat egaliter yang berani berpikir, berproduksi, dan berkreasi sendiri. ORI (Oeang Republik Indonesia) diciptakan Oktober 1946, menggantikan uang Jepang dan uang Sekutu. Sistem perbankan dibangun, termasuk Bank Sentral, yang menjalankan fungsi-fungsi seperti yang kita kenal sekarang.

Pemerintah juga menumbuhkan kelas pengusaha untuk penanganan bisnis dan ekonomi. Tidak gampang. Wajar tumbuh persaingan antara minoritas yang terampil, yang telah lama diposisikan sebagai kelas pengusaha oleh penjajah, dan mayoritas yang tidak berpengalaman. Live and learn. Selama ikatan kebangsaan tetap kuat dan kerja sama yang saling menguntungkan dibina, situasi bisa berangsur teratasi.

Orde Baru menggulirkan pembangunan yang luar biasa pesat. GDP per kapita naik 11 kali lipat dari US$70 pada awalnya. Kelas pengusaha makin terampil. Lima kali Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) telah meningkatkan posisi Indonesia ke dalam kelompok negara berpenghasilan menengah. Maka setelah kegaduhan politik pada 1950-an dan 1960-an, Indonesia berhasil mencapai kemajuan dan stabilitas seperti yang kita nikmati sekarang. Menurut Wikipedia, sekarang GDP per kapita naik sekitar lima kali lipat sejak akhir Orde Baru.

Wajar Indonesia masuk kelompok G-20, suatu pengakuan bahwa sikap dan posisi Indonesia pasti ikut mewarnai perilaku ekonomi global demi kepentingan dunia dan kepentingan nasional. KTT G-20 pekan ini mungkin tidak memberikan solusi akhir, tetapi paling tidak memberi wawasan tentang apa yang bisa disiapkan.

Lingkungan Hidup

Diperkirakan, sekitar sepertiga tanah yang bisa ditanami di bumi telah rusak. Hutan tropis yang masih perawan mungkin sekarang hanya tinggal sekitar separuhnya. Padahal, mengatasi masalah pelestarian alam memerlukan waktu. Peremajaan hutan, misalnya, memerlukan 50150 tahun. Wilayah lapisan es berangsur hijau karena es yang meleleh, yang berarti wilayah itu tidak mampu lagi membalikkan panasnya surya ke ruang angkasa. Bumi pun bertambah panas.

Kemungkinan yang mencemaskan lagi, jumlah penduduk dunia terus meningkat, sudah sekitar 7 miliar, sedangkan sumber-sumber bumi makin menipis dan makin mahal. Situasi diperburuk karena konsumsi sumber bumi oleh negara-negara maju tidak sebanding dengan konsumsi negara negara kurang maju.

Kemajuan teknologi memungkinkan negara-negara maju lebih banyak merusak alam. Akan tetapi, tanggung jawab memburuknya lingkungan alam harus dipikul bersama. Itu berarti negara-negara berkembang sudah harus berhemat-hemat walaupun untuk membebaskan ratusan juta penduduk yang melarat, mereka terpaksa merusak sumber-sumber yang nantinya justru diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan.

Kesimpulannya, bila kita memperlakukan planet Bumi seserakah sekarang, bencana besar dan mungkin akhir zaman tidak dapat dihindarkan. Mengapa ini bisa terjadi? Sejarah peradaban mengajarkan berpikir dengan perspektif jangka panjang bukan menjadi kebiasaan manusia.

Sekarang sebagian besar wilayah bumi mengalami tekanan karena ledakan penduduk dan kerusakan lingkungan. Kita seharusnya menancapkan rem darurat, bukan asyik berwacana tentang hak-hak asasi manusia; sedangkan politisi di manamana sibuk bersaing mengejar kekuasaan.

Kita tunggu hasil pertemuan Rio+20 dan apa kelanjutannya. Kelangsungan hidup manusia bisa terjaga hanya bila lingkungannya dilestarikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar