Senin, 25 Juni 2012

Menyimak Lika-liku Jakarta, Megapolis Ibu Kota Negara


Menyimak Lika-liku Jakarta,
Megapolis Ibu Kota Negara
Bagus Takwin dan Niniek L Kariem ;  Pengajar di Fakultas Psikologi UI
Sumber :  KOMPAS, 24 Juni 2012


Memikirkan kota adalah menyadari aspek konfliktualnya: batasan dan kemungkinan, kedamaian dan kekerasan, pertemuan dan kesendirian, kebersamaan dan perpisahan, yang enteng dan puitis, fungsionalisme brutal dan improvisasi mengejutkan”.

Pernyataan Henri Lefebvre ini bisa digunakan untuk mendekati Jakarta, kota yang punya daya-daya bertentangan di dalamnya. Jakarta berpotensi besar menghasilkan hal-hal baik meski secara aktual lebih banyak masalah di sana.

Kita saksikan ada banyak masalah di situ: macet, banjir, sampah, kepadatan penduduk, pengangguran, kesenjangan ekonomi dan kemiskinan, tata ruang semrawut, minimnya sarana transportasi publik, polusi, korupsi, dan lain-lain.

Namun, di kota besar yang bertahan seperti itu pasti ada kekuatan yang bekerja. Kami coba mengidentifikasi kekuatan itu untuk memperoleh pemahaman mengenai tuntutan yang dihadapi pemimpin Jakarta.

Kekuatan Jakarta

Sebagai megapolis, Jakarta punya sumber daya besar. Jakarta berlimpah sumber daya dan dinamika pengetahuan. Kekuatan ini belum tergarap baik karena berbagai kekurangan, seperti pemimpin yang tak berintegritas, birokrasi tak efektif, dan peraturan tidak konsisten. Potensi bisnis di Jakarta sangat tinggi dan jika dikelola dengan baik dapat menyejahterakan warganya.

Orang dari berbagai etnis berkumpul di Jakarta. Kota ini bisa menjadi tempat membangun keterbukaan dan toleransi. Jakarta terbuka bagi dunia dan siap menerima temuan mutakhir meski juga rentan terhadap pengaruh buruk.

”Di Jakarta, Tuhan menciptakan orang Indonesia.” Ungkapan JJ Rizal saat diskusi dengan kami menyiratkan kekuatan Jakarta sebagai tempat berkumpul orang dengan latar belakang berbeda. Potensi perubahan perilaku dan perubahan politik ada di situ meski tentu mengandung potensi konflik.

Di Jakarta tumbuh kesadaran pelestarian lingkungan dan ide perkembangan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengabaikan kemampuan generasi mendatang memenuhi kebutuhan mereka. Sudah terbentuk gerakan politik hijau di kota ini. Kesadaran itu tumbuh dan mulai mengonsolidasi kekuatan.

Potensi pariwisata Jakarta tergolong besar. Ada pantai, laut, pulau, situs budaya, sentra perbelanjaan, beragam kuliner, dan seni. Peristiwa sejarah penting banyak terjadi di sini dan itu bisa jadi obyek wisata menarik jika dikelola dengan baik.

Kualitas dan Masalah

Kualitas Jakarta masih rendah. Tarik-menarik antara aspek konfliktualnya masih dimenangi oleh kekuatan yang menurunkan kualitas wilayah ini. Kita bisa menilainya berdasarkan dimensi kualitas tempat dari Florida (2005): diversitas, kelebihan khusus, kehidupan budaya, teknologi, talenta, kreativitas, toleransi atau keterbukaan, serta estetika mencakup arsitektur, taman dan warisan kota, lingkungan, dan keselamatan.

Kualitas diversitas Jakarta bisa digolongkan rendah karena kepadatan yang melebihi batas. Jumlah penduduk sangat tinggi (9,6 juta jiwa) dibandingkan dengan luasnya (666,33 kilometer persegi). Seperti dikemukakan Slamet JP (Kompas, 16/4), rata-rata setiap individu mendapat ruang gerak terbatas: 8 x 8 meter. Ranah pribadi dan ruang umum bertumpuk. Pada siang hari, Jakarta dipadati pekerja komuter dan macet adalah salah satu akibatnya.

Banyak lingkungan tempat tinggal yang tak memadai. Kita saksikan pinggir kali, kolong jembatan, lahan sepanjang rel kereta api, dan tempat berisiko lain menjadi tempat tinggal. Pemanfaatan ruang pun tergolong rendah, kebanyakan didominasi aktivitas ekonomi.

Ruang untuk bermain, olahraga, belajar, dan aktivitas lain sangat minim. Akibatnya, hampir tak ada tempat khusus yang luas dan segar di Jakarta. Tempat olahraga dan rekreasi, restoran, serta ruang (semi) publik kurang dan tak tersebar merata.

Kualitas budaya di Jakarta juga rendah, padahal orang kreatif banyak tinggal di Jakarta. Tempat kegiatan seni dan budaya yang terbuka untuk umum bisa dihitung pakai jari. Itu pun pengunjung harus bayar mahal.

Rendahnya jumlah paten per kapita, juga persentase hasil teknologi tingkat tinggi, mengindikasikan rendahnya kualitas teknologi meski jika dibandingkan dengan provinsi lain, Jakarta lebih tinggi. Padahal, ada potensi warga Jakarta bisa jadi produsen. Talenta warga Jakarta tergolong tinggi jika dilihat dari jumlah orang dengan gelar sarjana. Kreativitasnya rendah.

Namun, ada tanda baik dalam dinamika pengetahuan masyarakat Jakarta. Pemanfaatan teknologi dan pemikiran kritis-alternatif yang beredar menghasilkan penyebaran pengetahuan yang lebih luas dan egaliter.

Dinamika itu menambah kemungkinan dilakukannya perbandingan, munculnya banyak alternatif, peningkatan keberagaman, dan perluasan interaksi di antara beragam sudut pandang.

Kualitas toleransi di Jakarta kini sering dipersoalkan. Banyak tindakan tak toleran, seperti pelarangan diskusi, penolakan terhadap pemusik asing, bentrok antarkelompok berbeda keyakinan, dan kesulitan mendirikan rumah ibadah agama tertentu. Tak jarang intoleransi disertai kekerasan yang memakan korban, tetapi saat bersamaan muncul gerakan memperjuangkan pluralisme, kesetaraan, kebebasan, dan hak asasi manusia.

Kepadatan Jakarta dengan sebaran penduduk tak beraturan membuat kekacauan tata ruang. Ada ketidaksesuaian pembangunan sarana transportasi dengan konsep tata ruang, penggunaan lahan kosong secara ilegal, pedagang kaki lima tersebar tak beraturan, dan mal muncul bak jamur di musim hujan.

Hasilnya, tak ada estetika di Jakarta walau ada usaha membuat taman. Meski warisan kota ini cukup menjanjikan, toh, masih belum berhasil menampilkan sinar pesona karena tertutup kesemrawutan tata ruang.

Polusi jadi masalah besar di Jakarta. Selain banjir rutin yang menyusahkan dan mengotori Jakarta (meski sudah berkurang luasnya tiga tahun terakhir), udara, air, dan tanah tercemar. Akibatnya, kualitas lingkungan sangat rendah.

Keberlanjutan aset lingkungan alamiah terancam dan kualitas lingkungan hidup memburuk. Air tanah di Jakarta makin sedikit dan kenaikan air laut terus bertambah. Studi para ahli Belanda memprediksi, jika tak ditangani segera, setengah Jakarta bisa tenggelam pada 2025.

Meski pada 2011 ada penurunan kejahatan 9,51 persen dibandingkan dengan 2010, tingkat kriminalitas di Jakarta tergolong tinggi. Jakarta pun dipersepsi makin menakutkan oleh warga.

Di banyak dimensi, kualitas Jakarta rendah, bahkan beberapa buruk. Hal ini memerlukan pemikiran dan penanganan khusus yang sungguh-sungguh. Ditambah lagi, sebagai ibu kota negara, pengelolaan Jakarta jadi lebih kompleks karena pemerintah pusat punya wewenang ikut mengelola.

Pertentangan kepentingan dan kebijakan antara pemerintah pusat dan Pemprov DKI tak jarang terjadi. Saling lempar tanggung jawab dalam mengatasi masalah yang ada memperlambat dan menurunkan kinerja. Lobi politik pemprov terhadap pemerintah pusat membutuhkan kompetensi tersendiri.

Pemimpin buat Jakarta

Kepemimpinan transformasional dibutuhkan Jakarta. Pemimpin Jakarta perlu punya kompetensi dapat diandalkan, integritas, akuntabilitas, fleksibilitas, diversitas, penyelesaian masalah, interpersonal, komunikasi, dan kerja sama. Lebih khusus lagi, diperlukan kompetensi fokus kepada warga, yaitu kemampuan dan kepedulian untuk memenuhi kebutuhan warga dengan cara yang memuaskan.

Gubernur DKI Jakarta harus orang yang dapat menampilkan kepedulian terhadap pencapaian dan peningkatan hasil, penuh gairah untuk meningkatkan penyajian layanan, dan berkomitmen terus-menerus melakukan perbaikan. Inisiatif, kemauan untuk terus belajar, peka terhadap global, dan berani mengambil risiko menjadi syarat bagi gubernur yang kompeten.

Mengelola Jakarta adalah pekerjaan amat pelik. Tuntutan terhadap orang yang mau menjadi gubernur sangat tinggi. Orang yang mau memimpin Jakarta harus punya semua kompetensi itu. Tak kalah pentingnya, dia harus orang yang mencintai Jakarta dan warganya: orang yang mau mengorbankan dirinya untuk yang dicintai. ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar